Jumat, 29 November 2019

Gus Mus - Beragama itu membahagiakan bukan justru menyusahkan

gumus - beragama itu bahagia - ansorwebid

Agama itu menurut asal kata adalah teratur atau tidak morak marik. adanya agama menjadi solusi untuk menjadi indah dan damai.

Namun terakhir banyak orang yang justru mabok agama, dan karena agama justru dibuat untuk menghujat dan memfitnah dan saling menyalahkan. Sudah betulkah kita beragama selama ini.

KH. A Mustofa Bisri menyampaikan dalam sabda rutin di hari jumat menyampaikan kalau kita beragama ya seharusnya bahagia, karena Rasul hadir di dunia itu semata-mata untuk rahmatan lil alamin.

JUM'AT CALL: Allah mengutus RasulNya semata-mata untuk merahmati alam semesta. Maka Agama (seharusnya) membahagiakan dan memperindah pergaulan hidup; bukan menyusahkan dan memperburuknya.

Semoga Allah memberkahi Jum'at kita dan membuka hati dan pikiran kita untuk memahami Kebenaran serta mengikutinya.


#JumatCall
#Ansor
#Banser

Read More

Selasa, 26 November 2019

Tim Gabungan Ansor Banyumas siap Sukseskan PKD Ansor, Diklatsar, dan CBT di Wilayah Perbatasan



Banyumas - Sore ini, Tim Skolat Banser Satkorcab Banyumas bersama Tim PKD Ansor Cabang Banyumas dan Ansor Cyber Media Banyumas menghadiri acara persiapan kegiatan Diklatsar Banser dan PKD Ansor PAC Lumbir di Desa Cingebul.
Setidaknya ada sekitar 45 anggota gabungan yang hadir di acara tersebut bersama Kasatkorcab Banser Banyumas Sahabat Andry W.

Acara pertemuan yang dilaksanakan di halaman masjid Baiturrohim Dusun Wanasari Desa Cingebul ini dihadiri pula oleh Rois Syuriah MWC NU Lumbir, KH. Syuaib Asy'ari, "kami selaku orang tua merasa sangat berbangga hati atas kehadiran generasi penerus jamiyah NU di wilayah yang termasuk pinggiran Banyumas, semoga kaderisasi NU melalui banom-banomnya di Lumbir ini akan makin tumbuh subur kembali" ungkap Asy'ari dalam sambutannya.

Adapun Sahabat Andry W. selaku Kasatkorcab Banser Banyumas, dalam membuka acara musyawarah menyampaikan bahwa "Kegiatan yang akan kita laksanakan pada tanggal 6 sampai 8 Desember ini termasuk istimewa karena ada tiga macam kegiatan dalam waktu dan lokasi yang sama, yaitu Diklatsar, PKD dan Cyber Basic Training untuk anggota Ansor yang aktif sebagai pasukan di dunia medsos dan media informasi lainnya", masih menurut Andry kedepan masih ada lagi kegiatan serupa, yang terdekat adalah PKD, Diklatsar & CBT ACM di tanggal 20-22 Desember di Cilongok dan tanggal 27-29 Des 2018 di Purwokerto Selatan, pungkasnya.

Selepas musyawarah persiapan selesai dilanjutkan cek lokasi kegiatan mulai dari areal Madin Nurul Huda Wanasari untuk PKD Diklatsar, hingga Balai Pertemuan Dusun II untuk CBT ACM yang berjarak sekitar 800 Meter dari lokasi Diklatsar. (Mario)
Read More

Minggu, 24 November 2019

Gus Yahya - NU SESUDAH INI (BAGIAN KEDUA)

foto gus yahya cholil staquf - ansor.web.id


CAPAIAN-CAPAIAN

Untuk membangun peradaban, diperlukan suatu konstruksi sosial-politik sebagai basis untuk mengawali perjuangan. Demikianlah rumus sejarah. Itu pula sebabnya, Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam mencari-cari tempat yang cocok untuk hijrah setelah menyimpulkan bahwa Makkah tidak bisa dijadikan basis awalan. Yatsrib menjadi destinasi yang ideal karena penduduknya bersedia membuat kesepakatan untuk membangun konstruksi sosial-politik bersama-sama Kanjeng Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam dan kaum Muhajirin. Bahwa belakangan ada pihak yang mengingkari kesepakatan, itu soal lain.

Berbeda dari organisasi-organisasi lain yang ada di kurun waktu berdirinya, NU hadir dengan konstruksi sosial-politik yang nyaris komplit minus kuasa negara. NU merepresentasikan suatu komunitas dengan ikatan kultural yang kuat, bahkan dengan sejenis “struktur kekuasaan” berupa pengaruh para kyai dengan daya kendali yang kuat pula atas jama’ahnya.

Ikhwanul Muslimun yang didirikan tahun 1929 baru berupa ideologi yang ditawarkan. Demikian pula Syarikat Islam dan Muhammadiyah, tahun 1912, mengumpulkan orang-orang yang setuju dengan suatu gagasan abstrak dan terbatas, tentang perjuangan politik, atau pembaharuan pendidikan. NU adalah keseluruhan komunitas berikut kompleks budaya dan hubungan-hubungan kuasa yang menjadi bagian dari tradisinya.

Tapi tetap saja apa yang ada itu belum cukup. Maka, bersama-sama elemen-elemen Bangsa lainnya, NU ikut memperjuangkan negara, yaitu NKRI, dengan kesadaran penuh untuk memiliki negara sendiri, berdiri sendiri. Sama sekali tidak ada wawasan untuk bergabung dengan bagian Dunia Islam lainnya dalam satu entitas negara untuk mengembalikan konstruksi Turki Usmani atau yang sejenisnya. Karena sudah pasti bahwa kedatangan era peradaban baru telah menjadi kesadaran bersama.

Harus dipahami bahwa baik mendirikan NU maupun mendirikan NKRI bukanlah “proyek” langsung jadi seperi mincuki mindhik. Semua itu adalah perjuangan merintus peradaban baru. Proyek raksasa yang harus digembalakan mengarungi sejarah, menembus bolak-baliknya jaman. Maka nilai yang paling transenden dalam hal ini adalah cita-cita peradaban itu sendiri. Banyak pernyataan-pernyataan atau keputusan-keputusan yang dibuat oleh para Bapak Pendiri dan para pahlawan dari generasi yang lalu harus diletakkan pada posisi temporer, tergantung konteks kehadirannya. Maka tafsir dan perlakuan terhadap kutipan-kutipan harus dibarengi dengan pemahaman yang jernih akan konteks tersebut.

Tak perlu kejang-kejang mendapati kenyataan bahwa Kyai Wahab Hasbullah pada tahun 1952 menyeret NU keluar dari Masyumi dan berpraktek sebagai partai politik, sedang Hadlratussyaikh Kyai Hasyim Asy’ari sebelum wafat pernah menyatakan bahwa Masyumi adalah satu-satunya partai politik bagi seluruh umat Islam Indonesia. Demikian pula bahwa Bung Karno mengumumkan Dekrit Presiden kembali ke UUD 1945 (NKRI) tahun 1959, padahal tadinya sudah setuju pembentukan Republik Indonesia Serikat pada tahun 1949.

Kita bersyukur bahwa dari jaman ke jaman Allah Subhanahu Wa Ta’ala menganugerahkan pemimpin-pemimpin yang bashiroh ruhaniyahnya (ketajaman mata batin) senantiasa dinaungi petunjuk-Nya. Walaupun harus menempuh berbagai gejolak yang mengerikan, agenda membangun peradaban tak pernah patah sama sekali ataupun terhenti.

Kini kita telah memiliki jam’iyyah yang —walaupun masih lebih banyak kekurangannya daripada kelebihannya— bukan hanya sudah operasional sampai tingkat mampu bertahan hidup saja, tapi sudah tertransformasikan sehingga cukup cakap untuk memasuki jaman baru abad ke-21. Negara kita ini pun cukup tahan waras melalui macam-macam benturan yang tak masuk akal, menjadi satu-satunya negara di Dunia Islam yang tetap stabil ditengah demokratisasi berkelanjutan, pada saat yang lainnya terkena sawan bahkan kejangkitan alergi mematikan ketika bersenggolan dengan demokrasi. Bahwa ada kekhawatiran-kekhawatiran, bukan alasan untuk berkecil hati. Banyak temannya. Seluruh dunia memang dihantui macam-macam kekhawatiran.

Bahkan, kemelut global yang memuncak, khususnya terkait stabilitas dan keamanan, justru menerbitkan peluang peran besar bagi NU dan NKRI. Gagasan “Humanitarian Islam” (Islam untuk Kemanusiaan, Al Islam lil Insaniyyah) yang dideklarasikan oleh Gerakan Pemuda Ansor pada 2017 di Jombang kemudian dilengkapi dengan kerangka teologis secara valid oleh Musyawarah Nasional Alim-Ulama NU di Kota Banjar, 2019, beserta “Manifesto Nusantara” yang diumumkan di Yogya, 2018, kini mulai mewarnai wacana global tentang perdamaian dan tata dunia baru yang dimpikan semua orang, yaitu “tata dunia yang sungguh-sungguh adil dan harmonis, ditegakkan diatas dasar penghormatan terhadap kesetaraan hak dan martabat diantara sesama”.

Apabila hal ini dikelola dengan semestinya, akan tercipta kemlêtikan —boso Indonesiane opo ‘ki, Lak?— (leverage) yang tak ternilai, yaitu ketika realitas keunggulan Indonesia semakin dikenal dan diakui oleh dunia, sebagaimana yang dewasa ini mulai terasa. Pada gilirannya, kemlêtikan itu akan menjadi kekuatan tawar yang melambungkan kedudukan Indonesia dalam percaturan internasional.

NU sendiri telah memiliki lembaga-lembaga yang terus berkembang: lebih dari dua puluh ribu pesantren, belasan ribu madrasah dan sekolah, puluhan perguruan tinggi, ratusan rumah sakit, sentra-sentra ekonomi, dan sebagainya; jutaan kader terlatih dan panen sarjana secara besar-besaran di berbagai bidang; jaringan kerja sama didalam dan luar negeri yang mulai menggurita; semua tinggal menunggu pencanggihan kualitas dan penerapan konstruksi gerakan yang lebih berdaya. Gambaran statistik tentang luasan pengaruh NU saat ini pun amat mengesankan. Apabila NU konsisten saja dengan positioning dan langkah-langkahnya dalam dinamika masyarakat seperti sekarang, angka-angka statistik itu masih bisa terus bertambah. Apalagi jika berhasil menerapkan konstruksi gerakan yang lebih progresif.

KH. Yahya Cholil Staquf
Source : https://web.facebook.com/staquf/posts/10216439682726814
Read More

Sabtu, 23 November 2019

Gus Yahya - NU SESUDAH INI (BAGIAN PERTAMA)

foto gus yahya cholil staquf - ansor.web.id

Berpikir tentang NU abad ke-2 itu berlebihan. Memperkirakan proyeksi beberapa puluh tahun kedepan mungkin masih masuk akal. Tapi 100 tahun adalah masa yang terlalu panjang. Apalagi ditengah berbagai ketidakmenentuan global seperti yang kita lihat dewasa ini.

Dalam 100 tahun yang telah berlalu saja begitu banyak “belokan” sejarah yang tak seorang pun menduga sebelumnya. Bahkan Indonesia Merdeka adalah tidakterdugaan. Kekalahan Komunisme Internasional, kebangkitan Syi’ah Imamiyah, reformasi politik di Indonesia, keruntuhan Timur Tengah, semuanya jauh dari ramalan, setidak-tidaknya mengenai waktu tibanya.

Seratus tahun ke depan akan jauh lebih tak terperi, mengingat intensitas dan akselerasi perubahan yang datang bertubi-tubi, sehingga perubahan menjadi gejala utama dinamika dunia. Teknologi, politik, ekonomi, nilai-nilai dan norma-norma, semua seperti “gabah diintêri”. Terus-menerus berubah dengan cepat. Semakin sulit menandai adanya satu era kemapanan tertentu.

Yang bisa dilakukan adalah menganggarkan langkah setapak demi setapak, sesuai dengan “jarak pandang ke depan” dari tempat berdirinya (stand point) saat ini. NU, pertama-tama, harus memahami capaian-capaiannya sendiri sejauh ini. Kemudian menandai momentum-momentum yang terjadi di lingkungan beredarnya dan memawas proyeksi realitas yang ada di depan, sehingga langkah-langkah yang diambil, yaitu agenda-agenda majunya, dapat dianggarkan secara valid, bukan sekedar angan-angan atau daftar keinginan yang tak tentu arah tujuannya.

Sebelum semua itu, tentu saja harus terlebih dahulu dipahami dengan jernih agenda absolut keberadaan NU, yakni tujuan kelahirannya, sebagai sudut pandang dalam mencermati hal-hal diatas.

AGENDA PERADABAN

Tidak tepat jika dikatakan bahwa NU didirikan untuk menentang faham Wahabi. Kalau dikatakan sebagai tanggapan atas dikuasainya Hijaz oleh Keluarga Saud, mungkin ada benarnya. Tapi bukan hanya soal Wahabinya. Berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah momentum yang sangat menentukan dan terus menjadi salah satu faktor utama dalam dinamika sejarah dunia selama hampir seratus tahun sejak saat itu.

Pada dasarnya, tahun 1920-an, berakhirnya Imperium Turki Usmani, adalah momentum perubahan yang amat mendasar dalam keseluruhan sejarah peradaban Islam. Segala kemapanan selama 13 abad sebelumnya, memasuki gerbang keluruhan yang tak dapat dibalikkan lagi. Musim gugur peradaban.

Dalam kerangka sejarah Peradaban Islam sebelum ini, Nusantara adalah pinggiran. Ia bukan bagian dari corak sosial-budaya yang dimapankan oleh pusat-pusat kekuasaan Islam yang dominan, baik masyarakat Sunni yang dikuasai Dinasti Usmani di Istanbul, maupun masyarakat Syi’ah yang dirajai Dinasti Shafawi di Isfahan. Dapat dimaklumi jika kemudian di Nusantara berkembang corak sosial-budaya masyarakat Muslim yang unik, berbeda dari corak umum masyarakat Muslim di belahan Dunia Islam lainnya.

Runtuhnya Turki Usmani setelah sebelumnya berhasil menetralisir Dinasti Shafawi —saingannya selama hampir dua setengah abad, merupakan tonggak terhentinya laju ekspansi politik Islam. Ia juga menandai era baru dalam sejarah peradaban dunia, ketika dunia moderen menggelinding dalam helaan dominasi Barat. Dengan demikian, Dunia Islam harus memulai suatu pergulatan untuk mencari model yang baru bagi peradabannya sendiri.

Nusantara, setelah sejak abad ke-16 mengembangkan corak sosial-budaya yang berbeda dari Usmani dan Shafawi sebagai arus utama, memiliki alternatif yang dapat ditawarkan dalam pergulatan mencari model peradaban baru itu. Maka para ulamanya mendirikan NU, suatu konstruksi pionir sebagai basis kelembagaan untuk ikut serta dalam perjuangan tersebut.

Jelaslah bahwa agenda absolut NU adalah membangun peradaban. Apakah ini arogan? Tidak. Karena NU tidak mengangankan penaklukan dan dominasi. NU berkehendak untuk menyumbang. Dengan kesadaran penuh bahwa diluar sana ada aktor-aktor yang sama mulianya dan sama haknya untuk ikut menentukan masa depan umat manusia, baik dari dalam lingkungan Islam maupun dari luarnya.

KH. Yahya Cholil Staquf
Source : https://web.facebook.com/staquf/posts/10216431245595891
Read More

Jumat, 22 November 2019

Gus Yahya - SANTRI UNIVERSAL


SANTRI UNIVERSAL - Oleh Gus Yahya

Sebaiknya orang NU tidak membiarkan diri larut dalam eforia kebanggaan akan pengakuan atas jasa-jasa di masa lalu. Karena dua alasan. Pertama, toh jasa-jasa itu dipersembahkan oleh generasi yang telah lalu, bukan oleh dhiyapurannya bekakas-bekakas pating pecenges masa kini. Kedua, karena NU tidak boleh hanya menjadi identitas tribal yang statis dan "menuntut", tapi harus ditegakkan sebagai visi universal yang aktif dan "mengabdi" --ini adalah intinya inti, core of the core, dari khitthah Nahdliyyah.

Bahwa orang NU generasi yang lalu telah banyak berjasa, itu bukan alasan bagi generasi sekarang untuk menuntut imbalannya seperti gus nggak bisa ngaji mengharapkan salam tempel dari alumni. Kemuliaan para pendahulu tidak boleh begitu saja dijadikan definisi bagi para penuntut warisannya. Engkau adalah apa yang kau perbuat, sebagaimana bapakmu adalah jasanya. Dan engkau bukan bapakmu.

Karya para pendahulu --yakni bapakmu dan embahmu hingga embahnya embahmu dan embah-embahnya-- menghadirkan dampak berskala peradaban karena mereka melakukannya demi semesta universal, bukan demi diri sendiri, bukan juga demi kamu saja! Kini, akan menjadi kehinaanmu kalau kau menuntut-nuntut orang agar menghargai jasa-jasa mereka sedangkan kau sendiri tidak memuliakan mereka dengan menyorohkan dirimu kedalam pengabdian bagi semesta universal pula.

Maka, menjadi santri adalah menjadi universal. Atribut santri adalah hak universal. Identitas santri adalah identitas universal. Yaitu nilai-nilai luhur dalam pergulatan rohani untuk memperjuangkan kemuliaan peradaban universal. Barangsiapa memperhatikan rohani dengan memupuk kekuatannya untuk ikut serta memperjuangkan peradaban yang mulia bagi seluruh umat manusia, itulah santri

KH. Yahya Cholil Staquf

Read More

Gus Mus - Sibukkan diri bukan untuk dunia saja



JUM'AT CALL: Marilah berusaha mencari dan menggunakan apa saja yang dianugerahkan Allah di dunia ini, bagi Kepentingan Akhirat kita. Jangan sampai justru kesibukan dunia membuat kita lupa kepentingan kita yang terpenting itu.

*Semoga Allah memberkahi Jum'at kita dan menolong kita melakukan yang terbaik bagi kepentingan kita sesuai kehendakNya.


#GusMus
Read More

Rabu, 20 November 2019

Susunan Pengurus PW Ansor Jateng 2017-2021



Surat Keputusan nomor 1095/PP/SK-01/I/2018 yang ditandatangani Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil QOumas dan Sekretaris Jenderal PP GP Ansor Abdul Rhochman, susunan pengurus harian PW GP Ansor Jawa Tengah, adalah sebagai berikut ;



I. Pengurus Harian

Ketua : H. Sholahuddin Aly

Wakil Ketua : Fuad Hidayat
Wakil Ketua : Muh Abdullah
Wakil Ketua : Fatah Muria
Wakil Ketua : Hadi Masykur
Wakil Ketua : Ahadun
Wakil Ketua : Tsalis Syaifuddin
Wakil Ketua : Muchtar Ma’mun
Wakil Ketua : Tino Indra Wardono
Wakil Ketua : Taufik Hidayat
Wakil Ketua : Deny Septivian
Wakil Ketua : Darwanto
Wakil Ketua : M Nur Huda
Wakil Ketua : Abdurrahman Kasdi
Wakil Ketua : Muhamad Hanif Mahfud
Wakil Ketua : Abdul Rahman
Wakil Ketua : Ahmad Najih
Wakil Ketua : Suparno
Wakil Ketua : Muhamad Ngainirrichad
Wakil Ketua : Abdul Hamid
Wakil Ketua : Ahmad Munsip
Wakil Ketua : H. Faisal Riza
Wakil Ketua : Wahid Jumali
Wakil Ketua : Hasan Asy’ari
Wakil Ketua : Anas Munaji
Wakil Ketua : Marzuki
Wakil Ketua : Jamaludin



Sekretaris : Fahsin M. Faal

Wakil Sekretaris : Muhamad Nurissalam
Wakil Sekretaris : M. Azil Maskur
Wakil Sekretaris : Teguh ImaN Darus Jamin
Wakil Sekretaris : Ali Ansori
Wakil Sekretaris : Agus Supriono
Wakil Sekretaris : Abdulloh Ibnu Tolhah
Wakil Sekretaris : M Shidqon Prabowo
Wakil Sekretaris : Abdul Muis
Wakil Sekretaris : Abdul Azis
Wakil Sekretaris : Ainur Rahim
Wakil Sekretaris : Muhammad Khafidin
Wakil Sekretaris : Nur Hasan
Wakil Sekretaris : Syaifuddin Zuhri
Wakil Sekretaris : Sa’dun Daim
Wakil Sekretaris : M. Suyanto
Wakil Sekretaris : Junedi
Wakil Sekretaris : Jazeri
Wakil Sekretaris : Rikza Chamami
Wakil Sekretaris : Muizzudin Zarkasi
Wakil Sekretaris : Khaeru Shaleh
Wakil Sekretaris : AA. Mukhtarzain
Wakil Sekretaris : Salim Effendi
Wakil Sekretaris : Syukron Wahid
Wakil Sekretaris : Muh. Haikal
Wakil Sekretaris : Hendro Riyanto
Wakil Sekretaris : Sri Handoko



Bendahara : Nur Muhammad Sugiyarto

Wakil Bendahara : Awan Fahmi Habibi
Wakil Bendahara : Muhammad Reza
Wakil Bendahara : Firmansyah



II. Dewan Penasehat

Ketua                    : Drs Abu Hapsin M.A, PhD
Wakil Ketua        : Jabir Al Faruqi
Sekretaris            : M Puji Wibowo
Wakil Sekretaris : Imron

Anggota                :
KH Munif Zuhri
KH Alam Nukhin Cholid
Habib Ali Zainal Abidin
KH Abdullah Saad
Ki Enthus Susmono
Hendrar Prihadi SE MM
HM Suudi
Drs H A Kholiq Arif M.Si
M Jakfar
Soemarsono Sugeng
Syam Amino


Bidang – Bidang PW Ansor Jateng :

Bidang Pemberdayaan Ekonomi
Ali Fauzan
Hasyim Rasyid
Husein Ahmadi


BANAAR
Nur Khoyin
Ahamad Junaidi
Masykur Ramdhan


Bidang Lingkungan Hidup
Ahmad Thoha
Al Amin
Nurul Asror


Bidang Pertanian dan Kemaritiman
Fadhlil Kirom
Ahmad Sulhan
Wahyudi


Bidang Pemuda Olah Raga, Seni dan Budaya
Nurwin
Achmad Said
Bagus Indrawan


Bidang LWA
Atiq Amjadilah
A. Muthohar Al Bana
Irfan Rosyadi


Bidang LBH
Bagus Hendradi Kusuma
Ahmad Rifan Nawawi
Jahirin


Bidang Media dan Teknologi
Deni Setiawan
Nur Wahid
Wijaya Wizisme


Bidang Kajian Keisalam & Jaringan Pesantren
Fahmi Arifan
M. Farhan
Agus Irfan


Pada SK yang ditandatangani Ketua Umum dan Sekjend pada 23 Januari 2018 M / 6 Jumadil Awwal 1439 H tersebut, berlaku sampai 18 November 2021.(*)

Sumber : ansorjateng.net 
Read More

Gus Yaqut - Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia


Jangan Pernah Lelah untuk Mencintai, iya karena cinta hidup kita menjadi Bahagia... Tebarkan Cinta dan kasih sayang dimanapun kita berada.

Mencintai Indonesia adalah wujud kita mencintai Tanah air yang merupakan Anugerah dari Allah SWT. sebagai wujud syukur kita dengan menjaga, mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta mengisinya dengan kegiatan atau hal-hal yang positif.

Ansor - Banser sebagai sayap kegiatan sosial keagamaan Nahdlatul Ulama siap menjadi garda terdepan untuk Negara tercinta. Bergerak bersama, sinergi untuk kedamaian Bumi Nusantara.

Tetap Semangat, Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia.
Salam Satu Komando.
Read More

Ucapan Hari Anak Sedunia Tahun 2019


Gus Yaqut : Nak, aku tak pernah suka kekalahan dan takluk di hadapan seseorang. Tapi kalahkanlah aku. Karena itu satu-satunya kekalahan yang membahagiakanku..
Read More

Selasa, 19 November 2019

Prof. K.H. Saifuddin Zuhri - Sokaraja Banyumas


Sejarah Singkat pergerakan Prof. K.H. Saifuddin Zuhri - Sokaraja Banyumas


"TH 1930-1940-an ada dinamika hub NU dan
Ansor Tentang pemakaian dasi, terompet dan
genderang pada Kepanduan Ansor.
KH. Syaifuudin Zuhri menilai ansor
adalah sayap revolusioner di NU"
_Sumber : Secuil Sejarah GP Ansor - Jiwa Banser.Pdf_

Tokoh Gerakan Pemuda Ansor yang lahir dari keluarga petani tepatnya di Sokaraja pada tanggal 1 Oktober 1919. Masa kecil beliau lalui dengan belajar mengaji pada orang tuanya yang memimpin pesantren di sokaraja yang menjadi pusat perkembangan agama islam di kadipaten Banyumas.

Rajin membaca menjadi modal beliau untuk mengoleksi ratusan ribu kosa kata sehingga menjadikan dirinya penulis yang cukup produktif.

Perjuangan di masa muda beliau dengan menjadi pemimpin Gerakan Pemuda Ansor Daerah Jawa Tengah pada tahun 1938. pada saat itu tokoh muda ini membuat gebrakan dan menyulut semangat pemuda ANO yang menjadikan sebagai Revolusioner di Nahdlatul Ulama.

Dalam masa pegerakan menuju kemerdekaan, Saifudin muda ikut berperang dan berjuang bersama dengan menjadi Komandan Divisi Hizbullah Jawa Tengah. Beliau memimpin pasukan hizbullah bersama pasukan TKR dibawah pimpinan Kol. Soedirman mengusir penjajah.

Bagi Nahdlatul Ulama beliau juga sangat berjasa, Pada usia 35 tahun K.H. Saifuddin Zuhri menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), usia yang sangat muda.

Kita bisa melihat bahwa di usia yang begitu muda beliau sudah di jajaran PBNU, menjadi mesin yang cukup tangguh untuk menggerakan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia.

Masa depan NU adalah di Ansor, dan melihat catatan sejarah justru organisasi Nahdlatul Ulama di isi oleh orang-orang hebat yang energik dan berjiwa muda.

*Mari raih kembali kejayaan Nahdlatul Ulama oleh Pemuda*

www.ansor.web.id

#ansor #banser #ansorwebid #KitaIniSama
Read More

Senin, 18 November 2019

Ucapan Milad Muhammadiyah ke 107 Tahun 2019


Selamat Milad ke 107 Muhammadiyah, Semoga selalu konsisten dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. 
Read More

Minggu, 17 November 2019

Apa Saja Tugas Instruktur Ansor - Banser ?

Apa Saja Tugas Instruktur Ansor - Banser ? | www.ansor.web.id


Pengakaderan Ansor setiap minggu dilakukan dari sabang sampai merauke, bahkan pengkaderan Ansor - Banser juga dilakukan di luar negeri.

Aktifitas di akhir pekan pasti ada Pimpinan Cabang atau Satkorcab yang mengadakan pengkaderan. waktu 3 hati tidaklah cukup untuk menyerap ilmu, ketrampilan dan spirit yang ada. maka ada Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dilakukan kader setelah lulus dan dibaiat.

Diluar dari itu ada tugas instruktur yang telah mendidik dan melatih secara 3 hari baik di kegiatan PKD ataupun Diklatsar. Idealnya 1 instruktur menangani 10 kader untuk dibina dan monitoring. Tentu masing-masing daerah berbeda namun secara umum ini gambaran tugas instruktur baik dalam pelatihan maupun pasca, berikut adalah Tugas Instruktur :

1. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan pelatihan.
2. Monitoring kader pasca pelatihan (Aktivitas sosial kemasyarakatan, keagamaan & pribadi).
3. Follow up pelatihan & Pendampingan Kader pasca pelatihan.

Terus Bergerak, bersama kita satu komando.
jangan berhenti untuk belajar, tingkatkan kemampuan dan ketrampilan kita dan upgrade ilmu pengetahuan tentang keansoran dan kebanseran.

salam satoe djiwa
www.ansor.web.id

#ansor #banser #ansorwebid #banserbanyumas #NahdlaltulUlama
Read More

Sabtu, 16 November 2019

Nawa Prasetya Banser

Nawa Prasetya Banser - www.ansor.web.id


Nawa prasetya adalah Janji atau ikrar kesetiaan anggota Banser

Sebagai kader Banser kita harus hafal, disetiap kegiatan Pengkaderan, upacara keBanseran nawa prasetya dibacakan.

Kita sudah berbaiat untuk mengabdi menjadi Kader Ansor dan Banser, sudah seharusnya tingkah laku kita juga mencerminkan kader yang baik.

Gambar ini Sebagai pengingat dan bisa menjadi bahan bagi sahabat yang belum hafal...

Tetap semangat untuk belajar dan upgrade ketrampilan dan kemampuan kita.

Salam Satu Komando
www.ansor.web.id

#ansor #banser #KitaIniSama #ansorwebid #banserBanyumas #nahdlatululama
Read More

Jumat, 15 November 2019

Gus Mus - Jika Kita Bersyukur Maka Tuhan akan Menambah Anugerah

Gus Mus - Jika Kita Bersyukur maka Tuhan akan menambah Anugerah | www.ansor.web.id


JUM'AT CALL: Jika kita menysukuri anugerah Allah, maka Dia akan menambah anugerah kepada kita. Tapi patutkah kita bersyukur semata-mata karena mengharap tambahan ?


Semoga Allah memberkahi Jum'at kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur dan berterimakasih.

#JumatCall
#GusMus



Read More

Kamis, 14 November 2019

Gus Luqman - Aku NU Padamu



Ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) adalah ajaran yang moderat dan menjadi landasan perjuangan dan pengabdian kepada Ummat. Aswaja telah kokoh sebagai landasan jihad oleh Nahdlatul Ulama untuk memperbaiki kondisi sosial dan kultural bangsa Indonesia.

Nahdlatul Ulama akan senantiasa berjuang untuk memastikan bahwa Ideologi Aswaja senantiasa menjaga adanya keragaman pendapat dalam beragama, sehingga ideologi agama tidak terjerembab ke dalam jurang kejumudan atau keliberalan.

Dalam Aswaja, perbedaan pendapat, selama tidak ada nash qoth'i (dalil nash) adalah boleh. Sedangkan untuk urusan hal-hal yang tidak ada nash qath'i adalah bersifat ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya perbedaan pendapat.

NU dengan paham Aswaja-nya senantiasa membuka diri terhadap perbedaan-perbedaan pendapat. NU akan selalu bergerak dan dinamis dengan terus bermunculannya pendapat-pendapat baru selama masih berada dalam koridor-koridor yang dapat dipertanggungjawabkan, terutama dalam mengikuti perkembangan-perkembangan zaman

Aswaja sebagai ideologi tengah-tengah telah memiliki karakter ke-Indonesia-an yang mampu menjadi perekat bagi kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

اكمل المؤمنين ايمانا احسنهم خُلقاً

Mu'min sing paling sempurna yaiku wong kang paling apik akhlaqe ( Riyadus Sholihin )

Read More

Rabu, 13 November 2019

Apa Itu Banser dan Tugasnya ?

apa itu banser dan tugasnya ? ansor.web.id


Banser atau Barisan Ansor Serbaguna merupakan tenaga inti GP Ansor sebagai penggerak, pengemban, dan pengaman program-program sosial kemasyarakatan yang keanggotaannya memiliki kualifikasi : disiplin dan dedikasi tinggi, ketahanan fisik dan mental yang tangguh, penuh daya juang dan dapat mewujudkan cita-cita GP Ansor dan kemaslahatan umum.

Sebagai tenaga inti, BANSER seharusnya merupakan kader elit GP Ansor, sebagaimana KOPASSUS di TNI AD, Korp Marinir di TNI AL, PASKHAS di TNI AU atau BRIMOB di POLRI. 


Read More

Selasa, 12 November 2019

Bagaimana Cara Penulisan Salam pada Surat Menyurat GP. Ansor ?



1. Surat dibuka dengan Assalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarokatuh atau disingkat Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
dengan tulisan miring (italic).

2. Surat ditutup dengan Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq,
dan di bawahnya Wassalamu’alaikum Warahmatullahi
Wabarokatuh atau disingkat Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,
dengan tulisan miring (italic).

3. Pada surat-surat khusus (surat keputusan, surat pengesahan,
surat tugas, surat untuk pihak tertentu dll.) hanya digunakan
pembuka Bismillahirrahmanirrahim, dengan tulisan miring (italic)
atau pembuka Dengan Hormat,.
Read More

Bersyukurlah Menjadi Kader Ansor


Menjadi Kader ANSOR itu sebuah 
kemewahan dari Allah, Banggalah, Syukuri !

Adung Abdul Rochman
(Sekretaris Jenderal PP GP. Ansor)


Download Foto Kang Adung sekjen ansor png

Read More

Senin, 11 November 2019

Kasatkornas - Banser adalah Pesantren Kedisiplinan


Quote Ndan Alfa Isnaeni, Kasatkornas Banser :

Banser adalah Pesantren Kedisiplinan, Bela Negara, dan Penjaga Pancasila
dalam Kerangka Islam Ahlussunah Wal Jamaah Annahdliyah


Download Foto png Ndan H. Alfa Isnaeni, klik gambar dibawah ini kemudian perbesar dan simpan.
ndan alfa isnaeni kasatkornas banser png

Read More

Jumat, 08 November 2019

Gus Mus - Cara Orang Simpati pada kita dengan Melihat Wajah


JUM'AT CALL: Pertama-tama orang melihat wajah kita, lalu bicara dan ucapan kita, kemudian sikap dan perilaku kita. Dari sanalah orang simpati atau antipati kepada kita.
.
Semoga Allah memberkahi Jum'at kita dan senantiasa membimbing kita ke jalan yang benar.
.
#JumatCall
#GusMus
Read More

Rabu, 06 November 2019

GP Ansor adakan Rakornas di Akhir Tahun 2019


Sebagai Kader Penggerak, kita tidak boleh menyurutkan langkah kita untuk mengambil peran lebih baik dan bergerak lebih cepat dalam satu komando organisasi. -GY-
Read More