Sabtu, 23 November 2019

Gus Yahya - NU SESUDAH INI (BAGIAN PERTAMA)

foto gus yahya cholil staquf - ansor.web.id

Berpikir tentang NU abad ke-2 itu berlebihan. Memperkirakan proyeksi beberapa puluh tahun kedepan mungkin masih masuk akal. Tapi 100 tahun adalah masa yang terlalu panjang. Apalagi ditengah berbagai ketidakmenentuan global seperti yang kita lihat dewasa ini.

Dalam 100 tahun yang telah berlalu saja begitu banyak “belokan” sejarah yang tak seorang pun menduga sebelumnya. Bahkan Indonesia Merdeka adalah tidakterdugaan. Kekalahan Komunisme Internasional, kebangkitan Syi’ah Imamiyah, reformasi politik di Indonesia, keruntuhan Timur Tengah, semuanya jauh dari ramalan, setidak-tidaknya mengenai waktu tibanya.

Seratus tahun ke depan akan jauh lebih tak terperi, mengingat intensitas dan akselerasi perubahan yang datang bertubi-tubi, sehingga perubahan menjadi gejala utama dinamika dunia. Teknologi, politik, ekonomi, nilai-nilai dan norma-norma, semua seperti “gabah diintêri”. Terus-menerus berubah dengan cepat. Semakin sulit menandai adanya satu era kemapanan tertentu.

Yang bisa dilakukan adalah menganggarkan langkah setapak demi setapak, sesuai dengan “jarak pandang ke depan” dari tempat berdirinya (stand point) saat ini. NU, pertama-tama, harus memahami capaian-capaiannya sendiri sejauh ini. Kemudian menandai momentum-momentum yang terjadi di lingkungan beredarnya dan memawas proyeksi realitas yang ada di depan, sehingga langkah-langkah yang diambil, yaitu agenda-agenda majunya, dapat dianggarkan secara valid, bukan sekedar angan-angan atau daftar keinginan yang tak tentu arah tujuannya.

Sebelum semua itu, tentu saja harus terlebih dahulu dipahami dengan jernih agenda absolut keberadaan NU, yakni tujuan kelahirannya, sebagai sudut pandang dalam mencermati hal-hal diatas.

AGENDA PERADABAN

Tidak tepat jika dikatakan bahwa NU didirikan untuk menentang faham Wahabi. Kalau dikatakan sebagai tanggapan atas dikuasainya Hijaz oleh Keluarga Saud, mungkin ada benarnya. Tapi bukan hanya soal Wahabinya. Berdirinya Kerajaan Saudi Arabia adalah momentum yang sangat menentukan dan terus menjadi salah satu faktor utama dalam dinamika sejarah dunia selama hampir seratus tahun sejak saat itu.

Pada dasarnya, tahun 1920-an, berakhirnya Imperium Turki Usmani, adalah momentum perubahan yang amat mendasar dalam keseluruhan sejarah peradaban Islam. Segala kemapanan selama 13 abad sebelumnya, memasuki gerbang keluruhan yang tak dapat dibalikkan lagi. Musim gugur peradaban.

Dalam kerangka sejarah Peradaban Islam sebelum ini, Nusantara adalah pinggiran. Ia bukan bagian dari corak sosial-budaya yang dimapankan oleh pusat-pusat kekuasaan Islam yang dominan, baik masyarakat Sunni yang dikuasai Dinasti Usmani di Istanbul, maupun masyarakat Syi’ah yang dirajai Dinasti Shafawi di Isfahan. Dapat dimaklumi jika kemudian di Nusantara berkembang corak sosial-budaya masyarakat Muslim yang unik, berbeda dari corak umum masyarakat Muslim di belahan Dunia Islam lainnya.

Runtuhnya Turki Usmani setelah sebelumnya berhasil menetralisir Dinasti Shafawi —saingannya selama hampir dua setengah abad, merupakan tonggak terhentinya laju ekspansi politik Islam. Ia juga menandai era baru dalam sejarah peradaban dunia, ketika dunia moderen menggelinding dalam helaan dominasi Barat. Dengan demikian, Dunia Islam harus memulai suatu pergulatan untuk mencari model yang baru bagi peradabannya sendiri.

Nusantara, setelah sejak abad ke-16 mengembangkan corak sosial-budaya yang berbeda dari Usmani dan Shafawi sebagai arus utama, memiliki alternatif yang dapat ditawarkan dalam pergulatan mencari model peradaban baru itu. Maka para ulamanya mendirikan NU, suatu konstruksi pionir sebagai basis kelembagaan untuk ikut serta dalam perjuangan tersebut.

Jelaslah bahwa agenda absolut NU adalah membangun peradaban. Apakah ini arogan? Tidak. Karena NU tidak mengangankan penaklukan dan dominasi. NU berkehendak untuk menyumbang. Dengan kesadaran penuh bahwa diluar sana ada aktor-aktor yang sama mulianya dan sama haknya untuk ikut menentukan masa depan umat manusia, baik dari dalam lingkungan Islam maupun dari luarnya.

KH. Yahya Cholil Staquf
Source : https://web.facebook.com/staquf/posts/10216431245595891


EmoticonEmoticon